Senin, 11 Mei 2020

PENDIDIKAN SAINS DAN TEKNOLOGI DALAM AL-QUR’AN


PENDIDIKAN SAINS DAN TEKNOLOGI DALAM AL-QUR’AN
Dinda sri rahayu Laruba

Abstrak
Artikel dengan judul Pendidikan Sains  dan Teknologi dalam Al-Qur’an, merupakan jenis artikel yang membahas tentang pendidikan sains dan  teknologi dalam pandangan Islam, yang penting sekali untuk kita ketahui terutama kaum muslim. Islam sangat mengapresiasikan keberadaan ilmu dengan memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap ilmu. Salah satu pencerahan yang dibawa oleh Islam bagi kemanusiaan adalah pemikiran secara ilmiah dan merujuk kepada Al-Qur’an dan hadist. Al-Qur’an dan hadist memicu pencapaian terbesar dalam ilmu pengetahuan bagi para ilmuan muslim selain itu pendidikan Al-Qur’an juga mengajarkan keterbukaan pikiran yang memungkinkan mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dari peradaban lain tanpa prasangka dari zaman ke zaman.  Salah satunya mengenai sains dan teknologi dalam Al-Qur’an, sesuai dengan artikel yang akan dibahas mengenai salah satu ayat tentang proses penciptaan langit dan bumi, sehingga kita bisa mengetahui hubungan antara sains, teknologi dan Al-Qur’an.
Kata kunci: sains, teknologi, pendidikan Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, proses penciptaan langit dan bumi
Lahirnya Islam dapat dilihat Islam memberikan penghargaan yang lebih kepada ilmu. Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan, al-Qur’an berisi semua informasi yang dibutuhkan manusia, serta dapat menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna dengan diperluas oleh manusia. Mengenai ilmu pengetahuan, ada salah satu cabang ilmu pengetahuan yaitu sains dan teknologi yang berhubungan dengan Al-Qur’an.
Pengertian Sains (science) menurut Agus S. diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan KuslanStone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu.
Sedangkan menurut kamus bahasa seperti yang dikutip oleh Abdurrahman R Effendi dan Gina Puspita sains adalah ilmu pengetahuan yang teratur (sistematik) yang boleh diuji atau dibuktikan kebenarannya. Ia juga merupakan cabang ilmu pengetahuan yang berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata-mata, misalnya sains fisika, kimia, biologi, astronomi, termasuklah cabang-cabang yang lebih detil lagi.[1]
Sedangkan teknologi adalah aktivitas atau kajian yang menggunakan pengetahuan sains untuk tujuan praktis dalam industri, pertanian, perobatan, perdagangan dan lain-lain. Ia juga dapat didefinisikan sebagai kaedah atau proses menangani suatu masalah teknis yang berasaskan kajian saintifik termaju seperti menggunakan peralatan elektronik, proses kimia, manufaktur, permesinan yang canggih dan lain-lain.[1]
Mengenai sains, teknologi dan al-Qur’an yang paling menonjol adalah materi mengenai proses penciptaan langit dan bumi, karena begitu banyak pendapat-pendapat mengenai bagaimana langit dan bumi ini diciptakan.
Salah satunya yaitu Tentang Teori Big Bang. Dalam teori ini, awal mula alam semesta ini berbentuk satu massa yang besar (nebula primer). Kemudian terjadilah dentuman besar atau ledakan pemisah sekunder (Bing Bang) yang mengakibatkan pembentukan galaksi yang terbagi dalam planet, matahari, bulan dan lainnya.
Teori Big Bang memberikan penjelasan paling komprehensif dan akurat tentang penciptaan alam semesta. Teori ini diperkenalkan pada tahun 1927. Orang yang pertama kali memperkenalkan teori Big Bang adalah GeorgesLemaître, seorang biarawan Roma Belgia, meski ia menyebutnya sebagai hipotesis atom purba.
Kerangka model teori Big Bang bergantung pada teori Relativitas Umum Albert Einstein dan beberapa perkiraan sederhana, seperti homogenitas dan isotropi ruang. Persamaan yang mendeksripsikan teori Ledakan Dahsyat dirumuskan oleh Alexander Friedmann.
Teori Big Bang menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta yang sekarang dengan cara pemisahan satu dengan yang lain.
Pada tahun 1948, GergeGamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa jika alam semesta terbentuk melalui ledakan raksasa, maka sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan itu haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi itu juga harus tersebar merata di semua penjuru alam semesta.
Dari hasil penelitian itu, sebagian besar ilmuwan mulai percaya teori Big Bang. Bukti lain kebenaran teori Big Bang adalah berhasil ditemukannya jumlah relatif hidrogen dan helium di alam semesta. Hasil penelitian yang dilakukan mengungkap bahwa campuran unsur hidrogen dan helium di alam semesta sesuai perhitungan teoritis jika terjadi ledakan besar.[2]
Adapun Penjelasan Alquran tentang Big Bang, jauh sebelum teori Big Bang ini ada, Alquran sudah menyebutkan tentang awal penciptaan alam semesta. Padahal ketika itu, tidak ada teknologi teleskop untuk mengamati luar angkasa. Ilmu astronomi pun belum berkembang seperti saat ini.
Sehingga dapat kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain.


B.     PEMBAHASAN
1.      Ayat Pendidikan Sains dan Teknologi dalam Al-Quran
a.       Q.S Al-Anbiya 21:30
b.      Ayat dan Terjemahannya
أَوَ لَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقٗا فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ ٣٠
Terjemahannya:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman”

2.      Analisa Mufrodat
Kata كَفَرُوٓا۟ adalah jama’ dari akar kata (رف ك ) yang berarti menutup,  melepas diri, menghapus, menyembunyikan dan lain-lain. Maksud dari kata ini adalah menutup diri dari kenyataan bahwa Allah Swt., adalah sumber kehidupan karena Dia (tanpa campur tangan mahluk) adalah pencipta, pembina dan pengatur alam semesta dengan kebenaran mutlak (haq).
Kata kafara juga dapat disandangkan kepada mereka yang tidak bersyukur dan mereka yang kikir yakni enggan membagikan rizki yang telah diterima kepada orang lain. Kata  رَتْقًا yang di sini diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan فَفَتَقْنَٰهُمَا atau Kami pisahkan antara keduanya bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan. Biji kedelai atau kacang yang tumbuh kecambahnya dan muncul tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang juga diungkapkan dengan menggunakan kata ini.
3.      Pandangan para ulama tafsir
a.       Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang! Apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi itu keduanya merupakan suatu obyek yang saling menyatu, tanpa ada pemisah antara keduanya? Maka Tidak ada hujan dari langit dan tidak ada tanaman dari muka bumi. Kemudian Kami memisahkan keduanya dengan Kuasa Kami. Dan Kami turunkan hujan dari langit dan Kami keluarkan tanaman dari dalam tanah, serta Kami menjadikan segala sesuatu hidup dari air. Apakah orang-orang yang ingkar itu tidak mau beriman, lalu mengimani apa yang mereka saksikan dengan menghususkan ibadah bagi Allah saja?
b.      Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 30. أَوَلَمْيَرَالَّذِينَكَفَرُوٓا۟ (Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui) Yakni tidakkah mereka memikirkan dan mengetahui. أَنَّالسَّمٰوٰتِوَالْأَرْضَكَانَتَارَتْقًا(bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu) Terdapat pendapat mengatakan yang dimaksud adalah bahwa dahulu langit-langit hanyalah satu kemudian dipisahkan; begitu juga bumi-bumi. Pendapat lain mengatakan bahwa dahulu langit dan bumi merupakan benda yang satu yang saling menempel. فَفَتَقْنٰهُمَاۖ( kemudian Kami pisahkan antara keduanya) Yakni Kami pisahkan keduanya. وَجَعَلْنَامِنَالْمَآءِكُلَّشَىْءٍحَىٍّۖ(Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup) Yakni Kami hidupkan seluruh makhluk hidup dengan air yang Kami turunkan dari langit atau dengan air yang di lautan. Hal ini meliputi hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dan maknanya adalah air merupakan sebab kehidupan segala makhluk hidup yang ada di bumi. أَفَلَايُؤْمِنُونَ(Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?) Padahal tanda-tanda dari Allah telah cukup untuk menjadikan mereka beriman.
c.       Zubdatut Tafsir Min FathilQadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 30. Apakah orang-orang kafir dan musyrik yang menyekutukan Allah dengan tuhan lain tidak mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi itu merupakan dua hal yang melekat menjadi satu satuan. Kemudian Kami memisahkan keduanya dan memberi jarak satu sama lain dengan gumpalan udara. Dan Kami ciptakan setiap sesuatu berupa hewan, tumbuhan dan makhluk lain selain keduanya dari air. Apakah mereka tetap tidak membenarkan kekuasaanKu dan keesaanKu?!
d.      Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbahaz-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Ada pula yang mengartikan dengan “melihat,” yakni apakah orang-orang kafir tidak melihat bahwa langit dan bumi keduanya sama-sama rekat (tidak terbelah), kemudian Kami belah langit sehingga menurunkan hujan, dan Kami belah bumi sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan…dst.” Bukankah yang mengadakan awan di langit yang sebelumnya bersih tanpa gumpalan dan menyimpan di dalamnya air yang banyak, lalu diarahkan ke negeri yang mati yang sebelumnya kering dan berhamburan debu, kemudian diturunkan hujan sehingga tumbuh berbagai tanaman dengan beraneka macam menunjukkan bahwa Allah adalah yang hak dan selain-Nya batil, dan bahwa Dia mampu menghidupkan orang yang telah mati, dan bahwa Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Yakni lalu Kami jadikan langit berjumlah tujuh, dan bumi pun tujuh. Atau maksudnya, dibelah langit yang sebelumnya tidak menurunkan hujan menjadi dapat menurunkan hujan, dan dibelahnya bumi yang sebelumnya tidak dapat menumbuhkan, menjadi dapat menumbuhkan. Dengan iman yang benar tanpa ada keraguan dan kemusyrikan di dalamnya.
e.       Hidayatul Insan biTafsirilQur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Orang-orang kafir tidak berpikir jernih dalam mengamati fenomena alam, padahal peristiwa yang ada di alam ini merupakan bukti adanya Allah dan kekuasaan-Nya yang mutlak. Allah bertanya, "dan apakah orang-orang kafir, kapan dan di mana saja mereka hidup, tidak memperhatikan secara mendalam bahwa langit dan bumi sebelum terjadi ledakan besar, keduanya dahulu menyatu, kemudian kami pisahkan antara kedua-Nya dengan mengangkat langit ke atas dan membiarkan bumi seperti apa adanya; dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; 'kehidupan dimulai dari air (laut), makhluk hidup berasal dari cairan sperma dan air bagian yang penting bagi makhluk hidup' maka mengapa mereka, orang-orang kafir itu tidak tergerak hatinya untuk beriman kepada Allah'"31. Pada ayat ini Allah mengarahkan pandangan manusia kepada gunung-gunung dan jalan-jalan, serta daratan yang luas di bumi. Dan kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh dengan maksud agar ia, bumi dengan putarannya yang cepat sekali itu, tetap mantap, tidak terjadi guncangan bersama mereka, manusia dan makhluk hidup lainnya. Dan kami jadikan pula di bumi jalan-jalan yang luas supaya semua makhluk dapat dengan tenang menjalani kehidupan, dan pada akhirnya agar mereka mendapat petunjuk Allah, baik yang diberikan melalui wahyu maupun petunjuk Allah berupa fenomena alam yang membentang luas ini.

4.           Analisis kandungan makna surah al-Anbiya ayat 30
Ayat di atas menjelaskan bahwa orang kafir dan musyrik Makkah sebelumnya tidak memperhatikan, bahkan tidak peduli dengan fenomena-fenomena alam yang terjadi. Nalar mereka digugah dan diajak untuk berfikir melalui firman-Nya,                                                                     
   أَوَلَمْيَرَالَّذِينَكَفَرُوا
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui”
Apakah orang-orang yang mengingkari Allah (yang berhak diibadahi dengan benar) dan orang-orang yang menyembah selain Allah tidak mengetahui, bahwa hanya Allah yang menciptakan dan mengatur segala ciptaan-Nya? Lalu, jika mereka mengetahui, bagaimana mungkin belum juga percaya bahwa tidak ada satu pun dari makhluk yang terdapat di langit dan di bumi yang wajar dipertuhankan?.
Tidakkah mereka melihat yakni menyaksikan dengan mata hati dan pikiran sejelas pandangan mata                                             
أَنَّالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَكَانَتَارَتْقًا
“Bahwasanya langit dan bumi itu dahulu adalah sesuatu yang padu (menyatu).” Maksudnya, pada langit dan bumi seluruhnya saling berkaitan dan tersusun antara sebagian dengan sebagian yang lain. Kemudian dia memisahkan bagian yang satu dengan bagian lainnya.
Sufyan ats-Tsauri mengatakan dari bapaknya dari ‘Ikrimah bahwa dia mengatakan, “Ibnu ‘Abbas r.a pernah ditanya, “mana yang lebih dulu malam atau siang?”  Dia menjawab, “Bukankah kamu mengetahui bahwa ketika langit bumi dulu masih bersatu, tidak ada keduanya kecuali kegelapan? Itu agar kamu mengetahui bahwa malam itu telah ada sebelum siang.”
Tentang cara Allah memisahkan keduanya, beberapa ulama’ tafsir banyak berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa pada awalnya langit dan bumi ini menyatu, kemudian Allah mengangkat langit ke atas dan membiarkan bumi tetap di tempatnya berada di bawah lalu memisahkan keduanya dengan udara.Sebagian berpendapat bahwa pemisahan langit dan bumi melalui penciptaan angin.
Sebagian lagi berpendapat pemisahan langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan para ilmuwan modern mengemukakan bahwa telah terjadi big bang yaitu dentuman besar dari Singularity sampai terpisahnya Gaya Gravitasi dari Gaya Tunggal (superforce) dan ruang-waktu mulai memisah. Pemisahan selanjutnya adalah terjadinya planet dan bintang-bintang.
Sebenarnya akal manusia mempunyai kesiapan untuk megkaji berbagai keajaiban adan fenomena alam. Nabi Muhammad SAW juga telah menjelaskan hal ini. Namun, kaumnya dan umat semasa mereka tidak mau memikirkannya hingga dapat membuktikan bahwa penjelasan itu adalah wahyu yang disampaikan kepada beliau dari Tuhan Yang Maha Tahu. Kalau saja mereka tidak ingkar, dan hati mereka tidak buta, niscaya penjelasan ini saja sudah cukup bagi mereka untuk segera mempercayai beliau dan beriman kepada risalahnya:
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS.AlHajj: 46)
Lalu langit menurunkan hujan, sehingga bumi pun dapat menumbuhkan tanaman. Oleh karena itu Allah berfirman,
“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”  bahwa semua makhluk hidup di alam ini memerlukan air untuk kelangsungan hidupnya. Baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Tanpa air, makhluk hidup akan mati.

5.      Pesan-pesan Pendidik
Dalam proses penciptaan alam semesta tidak luput dari nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil, hikmah serta pelajaran. Diantaranya aspek intelektual yang mengantarkan pada kemampuan dalam menelaah, meneliti, memahami, kecerdasan berfikir, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Aspek spiritual yang mengantarkan pada keyakinan terhadap Allah swt yang menciptakan segala sesuatu termasuk kemampuan berfikir dan mengkaji ilmu pengetahuan, menjadi poin penting selain dari kecerdasan intelektual dan emosional, karena kecerdasan spiritual disandingkan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai dalam kehidupan salah satunya pada konteks penciptaan alam semesta. Dalam konteks ilmu pengetahuan sebaiknya tidak hanya terfokus pada apa yang nampak secara fisika namun tetap memperhatikan secara aspek keseluruan (metafisika).

C.    KESIMPULAN
Perkembangan pemikiran tentang terbentuknya alam semesta sudah sejak lama menjadi pemikiran manusia, dibuktikan dengan begitu banyaknya pendapat dan teori-teori yang muncul tentang terbentuknya alam semesta. Dari sekian banyak teori yang dikemukakan oleh para ilmuan bahwa teori ledakan maha dahsyat (Teori Big Bang) yang disetujui oleh ilmuan modern. Merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta terbentuk. Perlu kesadaran bahwa jauh sebelum para ilmuan mengemukakan teori big bang, ayat-ayat al-Qur‟an secara jelas menceritakan bagaimana alam semesta terbentuk dalam enam masa.
Dapat dilihat Islam adalah agama yang mengajarkan bahwa ilmupengetahuan dan agama merupakan sesuatu yang saling berhubungan dan melengkapi.Al-Qur'an merupakan sumber ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan merupakansarana untuk mengaplikasikan segala sesuatu yang tertuang dalam ajaran Islam.Bukti bahwa Islam merupakan agama yang menekankan pengembangan ilmu pengetahuanadalah dengan ditemukan ratusan ayat yang membicarakan tentang petunjuk untukmemperhatikan bagaimana cara kerja alam dunia ini.
Tidak kurang dari 750 ayatdari 6000-an ayat al-Qur'an memberikan gambaran kepada manusia untukmemperhatikan alam sekitarnya. Selain itu, biasanya ayat-ayat yang membahasnyadiawali maupun diakhiri dengan sindiran-sindiran seperti; "Apakah kamu tidakmemperhatikan?", "Apakah kamu tidak berpikir?", "Apakah kamu tidak mendengar?","Apakah kamu tidak melihat?". Sering pula di akhiri dengan kalimat seperti"Sebagai tanda-tanda bagi kaum yang berpikir", "Tidak dipahami kecuali olehUlulAlbaab".
Demikianlah mukjizat terakhir rasul yang selalu mengingatkanmanusia untuk mendengar, melihat, berpikir, merenung, serta memperhatikansegala hal yang diciptakan Allah di dunia ini.















DAFTAR PUSTAKA
[1]        A. Rusdiana, “INTEGRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN SAINS DAN TEKNOLOGI,” no. 2, hlm. 21, 2014.
[2]        R. Abqary, “info tentang ilmuan muslim,” MIZAN, 2010.

Adden, Al-Qur’an vs Sains Modern, Baitul Maqdis
Ensiklopedi Islam, Mukjizat Al-Qur’an (Penciptaan alam semesta), 2010. Jakarta
Jumin, Hasan Basri, Sains dan Teknologi dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012
Kementrian Agama RI, Penciptaan Bumi dalam Prespektif Al-Qur’an dan Sains (Tafsir ‘Ilmi) Jakarta: Kementrian Agama RI. 2012
M. QuraishShihab, Tafsir Al-Mishbah vol. 8 Jakarta: Lentera Hati. 2002
Noordin, Sulaiman, Sains Menurut Perspektif Islam (Diterjemahkan oleh Munfaati), Jakarta: Dwi Rama, 2000
Subandy dan Hany Hanita Humanisa, Scienceand Technology SomeCases in Islamic Perspective, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.
SyaikhShafiyyurrahmanal-Mubarakfuri, Shahih Ibnu Katsir Jilid 6. Jakarta, Pustaka Ibnu Katsir, 2010



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UTS TAFSIR TARBAWI

Nama: Dinda sri rahayu Laruba Kelas: PBA 2B NIM: 191032037 UTS Tafsir Tarbawi (Menghafal Q.S Al-Luqman ayat 1-19)