PENDIDIKAN SAINS DAN TEKNOLOGI
DALAM AL-QUR’AN
Dinda sri rahayu Laruba
Abstrak
Artikel dengan judul Pendidikan Sains dan Teknologi dalam Al-Qur’an, merupakan
jenis artikel yang membahas tentang pendidikan sains dan teknologi dalam pandangan Islam, yang penting
sekali untuk kita ketahui terutama kaum muslim. Islam sangat mengapresiasikan keberadaan ilmu
dengan memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap ilmu. Salah satu
pencerahan yang dibawa oleh Islam bagi kemanusiaan adalah pemikiran secara
ilmiah dan merujuk kepada Al-Qur’an dan hadist. Al-Qur’an dan hadist memicu
pencapaian terbesar dalam ilmu pengetahuan bagi para ilmuan muslim selain itu
pendidikan Al-Qur’an juga mengajarkan keterbukaan pikiran yang memungkinkan
mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dari peradaban lain tanpa prasangka dari
zaman ke zaman. Salah satunya mengenai
sains dan teknologi dalam Al-Qur’an, sesuai dengan artikel yang akan dibahas
mengenai salah satu ayat tentang proses penciptaan langit dan bumi, sehingga
kita bisa mengetahui hubungan antara sains, teknologi dan Al-Qur’an.
Kata
kunci:
sains, teknologi, pendidikan Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, proses penciptaan
langit dan bumi
Lahirnya Islam dapat dilihat Islam memberikan
penghargaan yang lebih kepada ilmu. Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan,
al-Qur’an berisi semua informasi yang dibutuhkan manusia, serta dapat menjadi
ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna dengan diperluas oleh manusia.
Mengenai ilmu pengetahuan, ada salah satu cabang ilmu pengetahuan yaitu sains
dan teknologi yang berhubungan dengan Al-Qur’an.
Pengertian
Sains (science) menurut Agus S. diambil dari kata latin scientia yang
arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains
merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan KuslanStone menyebutkan
bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan
mempergunakan pengetahuan itu.
Sedangkan
menurut kamus bahasa seperti yang dikutip oleh Abdurrahman R Effendi dan Gina
Puspita sains adalah ilmu pengetahuan yang teratur (sistematik) yang boleh
diuji atau dibuktikan kebenarannya. Ia juga merupakan cabang ilmu pengetahuan
yang berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata-mata, misalnya sains fisika,
kimia, biologi, astronomi, termasuklah cabang-cabang yang lebih detil lagi.[1]
Sedangkan
teknologi adalah aktivitas atau kajian yang menggunakan pengetahuan sains untuk
tujuan praktis dalam industri, pertanian, perobatan, perdagangan dan lain-lain.
Ia juga dapat didefinisikan sebagai kaedah atau proses menangani suatu masalah
teknis yang berasaskan kajian saintifik termaju seperti menggunakan peralatan
elektronik, proses kimia, manufaktur, permesinan yang canggih dan lain-lain.[1]
Mengenai sains, teknologi dan al-Qur’an yang
paling menonjol adalah materi mengenai proses penciptaan langit dan bumi,
karena begitu banyak pendapat-pendapat mengenai bagaimana langit dan bumi ini
diciptakan.
Salah satunya yaitu Tentang
Teori Big Bang. Dalam teori ini, awal mula alam semesta ini
berbentuk satu massa yang besar (nebula primer). Kemudian terjadilah dentuman
besar atau ledakan pemisah sekunder (Bing Bang) yang mengakibatkan pembentukan
galaksi yang terbagi dalam planet, matahari, bulan dan lainnya.
Teori Big Bang memberikan penjelasan paling
komprehensif dan akurat tentang penciptaan alam semesta. Teori ini
diperkenalkan pada tahun 1927. Orang yang pertama kali memperkenalkan teori Big
Bang adalah GeorgesLemaître, seorang biarawan Roma Belgia, meski ia menyebutnya
sebagai hipotesis atom purba.
Kerangka model teori Big Bang bergantung pada
teori Relativitas Umum Albert Einstein dan beberapa perkiraan sederhana,
seperti homogenitas dan isotropi ruang. Persamaan yang mendeksripsikan teori
Ledakan Dahsyat dirumuskan oleh Alexander Friedmann.
Teori Big Bang menunjukkan bahwa semua benda
di alam semesta pada awalnya satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini
diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan
raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta yang sekarang
dengan cara pemisahan satu dengan yang lain.
Pada tahun 1948, GergeGamov muncul dengan
gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa jika alam semesta terbentuk
melalui ledakan raksasa, maka sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan itu
haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi itu juga harus tersebar merata di
semua penjuru alam semesta.
Dari hasil penelitian itu, sebagian besar ilmuwan mulai percaya teori
Big Bang. Bukti lain kebenaran teori Big Bang adalah berhasil ditemukannya
jumlah relatif hidrogen dan helium di alam semesta. Hasil penelitian yang
dilakukan mengungkap bahwa campuran unsur hidrogen dan helium di alam semesta
sesuai perhitungan teoritis jika terjadi ledakan besar.[2]
Adapun Penjelasan Alquran tentang Big Bang, jauh sebelum teori Big Bang ini
ada, Alquran sudah menyebutkan tentang awal penciptaan alam semesta. Padahal
ketika itu, tidak ada teknologi teleskop untuk mengamati luar angkasa. Ilmu
astronomi pun belum berkembang seperti saat ini.
Sehingga dapat kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain.
B. PEMBAHASAN
1. Ayat Pendidikan Sains dan
Teknologi dalam Al-Quran
a. Q.S Al-Anbiya 21:30
b. Ayat dan Terjemahannya
أَوَ
لَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقٗا
فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا
يُؤۡمِنُونَ ٣٠
Terjemahannya:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak
mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang
padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala
sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman”
2. Analisa Mufrodat
Kata كَفَرُوٓا۟ adalah jama’ dari akar kata (رف ك ) yang berarti menutup, melepas
diri, menghapus, menyembunyikan dan lain-lain. Maksud dari kata ini adalah
menutup diri dari kenyataan bahwa Allah Swt., adalah sumber kehidupan karena
Dia (tanpa campur tangan mahluk) adalah pencipta, pembina dan pengatur alam
semesta dengan kebenaran mutlak (haq).
Kata
kafara juga dapat disandangkan kepada mereka yang tidak bersyukur dan mereka
yang kikir yakni enggan membagikan rizki yang telah diterima kepada orang lain.
Kata رَتْقًا yang di sini
diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat
berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan فَفَتَقْنَٰهُمَا
atau Kami pisahkan antara keduanya bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada
melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan. Biji kedelai atau kacang yang
tumbuh kecambahnya dan muncul tunas dari dalam tanah adalah salah satu
peristiwa yang juga diungkapkan dengan menggunakan kata ini.
3. Pandangan para ulama tafsir
a. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir
Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam
Masjidil Haram) Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di
sini sekarang! Apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya
langit dan bumi itu keduanya merupakan suatu obyek yang saling menyatu, tanpa
ada pemisah antara keduanya? Maka Tidak ada hujan dari langit dan tidak ada
tanaman dari muka bumi. Kemudian Kami memisahkan keduanya dengan Kuasa Kami.
Dan Kami turunkan hujan dari langit dan Kami keluarkan tanaman dari dalam
tanah, serta Kami menjadikan segala sesuatu hidup dari air. Apakah orang-orang
yang ingkar itu tidak mau beriman, lalu mengimani apa yang mereka saksikan
dengan menghususkan ibadah bagi Allah saja?
b. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama
Saudi Arabia 30. أَوَلَمْيَرَالَّذِينَكَفَرُوٓا۟ (Dan apakah orang-orang yang
kafir tidak mengetahui) Yakni tidakkah mereka memikirkan dan mengetahui. أَنَّالسَّمٰوٰتِوَالْأَرْضَكَانَتَارَتْقًا(bahwasanya langit dan bumi
itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu) Terdapat pendapat mengatakan yang
dimaksud adalah bahwa dahulu langit-langit hanyalah satu kemudian dipisahkan;
begitu juga bumi-bumi. Pendapat lain mengatakan bahwa dahulu langit dan bumi
merupakan benda yang satu yang saling menempel. فَفَتَقْنٰهُمَاۖ(
kemudian Kami pisahkan antara keduanya) Yakni Kami pisahkan keduanya. وَجَعَلْنَامِنَالْمَآءِكُلَّشَىْءٍحَىٍّۖ(Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu
yang hidup) Yakni Kami hidupkan seluruh makhluk hidup dengan air yang Kami
turunkan dari langit atau dengan air yang di lautan. Hal ini meliputi
hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dan maknanya adalah air merupakan sebab
kehidupan segala makhluk hidup yang ada di bumi. أَفَلَايُؤْمِنُونَ(Maka
mengapakah mereka tiada juga beriman?) Padahal tanda-tanda dari Allah telah
cukup untuk menjadikan mereka beriman.
c. Zubdatut Tafsir Min FathilQadir / Syaikh
Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 30.
Apakah orang-orang kafir dan musyrik yang menyekutukan Allah dengan tuhan lain
tidak mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi itu merupakan dua hal yang
melekat menjadi satu satuan. Kemudian Kami memisahkan keduanya dan memberi
jarak satu sama lain dengan gumpalan udara. Dan Kami ciptakan setiap sesuatu
berupa hewan, tumbuhan dan makhluk lain selain keduanya dari air. Apakah mereka
tetap tidak membenarkan kekuasaanKu dan keesaanKu?!
d. Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr.
Wahbahaz-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Ada pula yang
mengartikan dengan “melihat,” yakni apakah orang-orang kafir tidak melihat
bahwa langit dan bumi keduanya sama-sama rekat (tidak terbelah), kemudian Kami
belah langit sehingga menurunkan hujan, dan Kami belah bumi sehingga
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan…dst.” Bukankah yang mengadakan awan di langit yang
sebelumnya bersih tanpa gumpalan dan menyimpan di dalamnya air yang banyak,
lalu diarahkan ke negeri yang mati yang sebelumnya kering dan berhamburan debu,
kemudian diturunkan hujan sehingga tumbuh berbagai tanaman dengan beraneka
macam menunjukkan bahwa Allah adalah yang hak dan selain-Nya batil, dan bahwa
Dia mampu menghidupkan orang yang telah mati, dan bahwa Dia Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang? Yakni lalu Kami jadikan langit berjumlah tujuh, dan bumi pun
tujuh. Atau maksudnya, dibelah langit yang sebelumnya tidak menurunkan hujan
menjadi dapat menurunkan hujan, dan dibelahnya bumi yang sebelumnya tidak dapat
menumbuhkan, menjadi dapat menumbuhkan. Dengan iman yang benar tanpa ada
keraguan dan kemusyrikan di dalamnya.
e. Hidayatul Insan biTafsirilQur'an /
Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Orang-orang kafir tidak berpikir jernih
dalam mengamati fenomena alam, padahal peristiwa yang ada di alam ini merupakan
bukti adanya Allah dan kekuasaan-Nya yang mutlak. Allah bertanya, "dan
apakah orang-orang kafir, kapan dan di mana saja mereka hidup, tidak memperhatikan
secara mendalam bahwa langit dan bumi sebelum terjadi ledakan besar, keduanya
dahulu menyatu, kemudian kami pisahkan antara kedua-Nya dengan mengangkat
langit ke atas dan membiarkan bumi seperti apa adanya; dan kami jadikan segala
sesuatu yang hidup berasal dari air; 'kehidupan dimulai dari air (laut),
makhluk hidup berasal dari cairan sperma dan air bagian yang penting bagi
makhluk hidup' maka mengapa mereka, orang-orang kafir itu tidak tergerak
hatinya untuk beriman kepada Allah'"31. Pada ayat ini Allah mengarahkan
pandangan manusia kepada gunung-gunung dan jalan-jalan, serta daratan yang luas
di bumi. Dan kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh dengan
maksud agar ia, bumi dengan putarannya yang cepat sekali itu, tetap mantap, tidak
terjadi guncangan bersama mereka, manusia dan makhluk hidup lainnya. Dan kami
jadikan pula di bumi jalan-jalan yang luas supaya semua makhluk dapat dengan
tenang menjalani kehidupan, dan pada akhirnya agar mereka mendapat petunjuk
Allah, baik yang diberikan melalui wahyu maupun petunjuk Allah berupa fenomena
alam yang membentang luas ini.
4.
Analisis kandungan makna surah al-Anbiya ayat 30
Ayat
di atas menjelaskan bahwa orang kafir dan musyrik Makkah sebelumnya tidak
memperhatikan, bahkan tidak peduli dengan fenomena-fenomena alam yang terjadi. Nalar
mereka digugah dan diajak untuk berfikir melalui
firman-Nya,
أَوَلَمْيَرَالَّذِينَكَفَرُوا
“Dan apakah
orang-orang kafir tidak mengetahui”
Apakah
orang-orang yang mengingkari Allah (yang berhak diibadahi dengan benar) dan
orang-orang yang menyembah selain Allah tidak mengetahui, bahwa hanya Allah
yang menciptakan dan mengatur segala ciptaan-Nya? Lalu, jika mereka mengetahui,
bagaimana mungkin belum juga percaya bahwa tidak ada satu pun dari makhluk yang
terdapat di langit dan di bumi yang wajar dipertuhankan?.
Tidakkah mereka melihat yakni
menyaksikan dengan mata hati dan pikiran sejelas pandangan mata
أَنَّالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَكَانَتَارَتْقًا
“Bahwasanya
langit dan bumi itu dahulu adalah sesuatu yang padu (menyatu).” Maksudnya, pada langit dan
bumi seluruhnya saling berkaitan dan tersusun antara sebagian dengan sebagian
yang lain. Kemudian dia memisahkan bagian yang satu dengan bagian lainnya.
Sufyan
ats-Tsauri mengatakan dari bapaknya dari ‘Ikrimah bahwa dia mengatakan, “Ibnu
‘Abbas r.a pernah ditanya, “mana yang lebih dulu malam atau siang?” Dia
menjawab, “Bukankah kamu mengetahui bahwa ketika langit bumi dulu masih
bersatu, tidak ada keduanya kecuali kegelapan? Itu agar kamu mengetahui bahwa
malam itu telah ada sebelum siang.”
Tentang
cara Allah memisahkan keduanya, beberapa ulama’ tafsir banyak berbeda pendapat.
Sebagian mengatakan bahwa pada awalnya langit dan bumi ini menyatu, kemudian
Allah mengangkat langit ke atas dan membiarkan bumi tetap di tempatnya berada
di bawah lalu memisahkan keduanya dengan udara.Sebagian berpendapat bahwa
pemisahan langit dan bumi melalui penciptaan angin.
Sebagian
lagi berpendapat pemisahan langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuh-tumbuhan.
Sedangkan para ilmuwan modern mengemukakan bahwa telah terjadi big
bang yaitu dentuman besar dari Singularity sampai
terpisahnya Gaya Gravitasi dari Gaya Tunggal (superforce) dan ruang-waktu
mulai memisah. Pemisahan selanjutnya adalah terjadinya planet dan
bintang-bintang.
Sebenarnya
akal manusia mempunyai kesiapan untuk megkaji berbagai keajaiban adan fenomena
alam. Nabi Muhammad SAW juga telah menjelaskan hal ini. Namun, kaumnya dan umat
semasa mereka tidak mau memikirkannya hingga dapat membuktikan bahwa penjelasan
itu adalah wahyu yang disampaikan kepada beliau dari Tuhan Yang Maha Tahu.
Kalau saja mereka tidak ingkar, dan hati mereka tidak buta, niscaya penjelasan
ini saja sudah cukup bagi mereka untuk segera mempercayai beliau dan beriman
kepada risalahnya:
“Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di
dalam dada.” (QS.AlHajj: 46)
Lalu langit menurunkan hujan, sehingga
bumi pun dapat menumbuhkan tanaman. Oleh karena itu Allah berfirman,
“Dan dari air
kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga
beriman?” bahwa semua makhluk hidup di alam ini
memerlukan air untuk kelangsungan hidupnya. Baik manusia, hewan, maupun
tumbuh-tumbuhan. Tanpa air, makhluk hidup akan mati.
5. Pesan-pesan Pendidik
Dalam
proses penciptaan alam semesta tidak luput dari nilai-nilai pendidikan yang
dapat diambil, hikmah serta pelajaran. Diantaranya aspek intelektual yang mengantarkan
pada kemampuan dalam menelaah, meneliti, memahami, kecerdasan berfikir, dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Aspek spiritual yang mengantarkan pada
keyakinan terhadap Allah swt yang menciptakan segala sesuatu termasuk kemampuan
berfikir dan mengkaji ilmu pengetahuan, menjadi poin penting selain dari
kecerdasan intelektual dan emosional, karena kecerdasan spiritual disandingkan
untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai dalam kehidupan salah
satunya pada konteks penciptaan alam semesta. Dalam konteks ilmu pengetahuan
sebaiknya tidak hanya terfokus pada apa yang nampak secara fisika namun tetap
memperhatikan secara aspek keseluruan (metafisika).
C. KESIMPULAN
Perkembangan pemikiran tentang terbentuknya
alam semesta sudah sejak lama menjadi pemikiran manusia, dibuktikan dengan
begitu banyaknya pendapat dan teori-teori yang muncul tentang terbentuknya alam
semesta. Dari sekian banyak teori yang dikemukakan oleh para ilmuan bahwa teori
ledakan maha dahsyat (Teori Big Bang) yang disetujui oleh ilmuan modern.
Merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal yang dapat dibuktikan mengenai
asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta terbentuk. Perlu kesadaran
bahwa jauh sebelum para ilmuan mengemukakan teori big bang, ayat-ayat al-Qur‟an
secara jelas menceritakan bagaimana alam semesta terbentuk dalam enam masa.
Dapat dilihat Islam adalah agama yang mengajarkan bahwa ilmupengetahuan dan agama
merupakan sesuatu yang saling berhubungan dan melengkapi.Al-Qur'an merupakan
sumber ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan merupakansarana untuk
mengaplikasikan segala sesuatu yang tertuang dalam ajaran Islam.Bukti bahwa
Islam merupakan agama yang menekankan pengembangan ilmu pengetahuanadalah
dengan ditemukan ratusan ayat yang membicarakan tentang petunjuk
untukmemperhatikan bagaimana cara kerja alam dunia ini.
Tidak kurang dari 750 ayatdari 6000-an ayat al-Qur'an memberikan
gambaran kepada manusia untukmemperhatikan alam sekitarnya. Selain itu,
biasanya ayat-ayat yang membahasnyadiawali maupun diakhiri dengan
sindiran-sindiran seperti; "Apakah kamu tidakmemperhatikan?", "Apakah
kamu tidak berpikir?", "Apakah kamu tidak
mendengar?","Apakah kamu tidak melihat?". Sering pula di akhiri
dengan kalimat seperti"Sebagai tanda-tanda bagi kaum yang berpikir",
"Tidak dipahami kecuali olehUlulAlbaab".
Demikianlah mukjizat terakhir rasul yang selalu mengingatkanmanusia
untuk mendengar, melihat, berpikir, merenung, serta memperhatikansegala hal
yang diciptakan Allah di dunia ini.
DAFTAR
PUSTAKA
[1] A. Rusdiana, “INTEGRASI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN SAINS DAN TEKNOLOGI,” no. 2, hlm. 21, 2014.
[2] R. Abqary, “info tentang ilmuan muslim,”
MIZAN, 2010.
Adden, Al-Qur’an vs Sains Modern, Baitul
Maqdis
Ensiklopedi Islam, Mukjizat Al-Qur’an
(Penciptaan alam semesta), 2010. Jakarta
Jumin, Hasan Basri, Sains dan Teknologi
dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012
Kementrian
Agama RI, Penciptaan Bumi dalam Prespektif Al-Qur’an dan
Sains (Tafsir ‘Ilmi) Jakarta: Kementrian Agama RI. 2012
M.
QuraishShihab, Tafsir Al-Mishbah vol. 8 Jakarta:
Lentera Hati. 2002
Noordin, Sulaiman, Sains Menurut
Perspektif Islam (Diterjemahkan oleh Munfaati), Jakarta: Dwi Rama, 2000
Subandy dan Hany Hanita
Humanisa, Scienceand Technology SomeCases in Islamic Perspective, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2011.
SyaikhShafiyyurrahmanal-Mubarakfuri, Shahih
Ibnu Katsir Jilid 6. Jakarta, Pustaka Ibnu
Katsir, 2010